You are currently viewing Melepaskan: Sebuah Latihan Sunyi

Melepaskan: Sebuah Latihan Sunyi

Penulis: Tantri Moerdopo

Ada saat-saat dalam hidup di mana kita harus belajar melepaskan. Melepaskan  orang yang kita cintai, impian yang pernah kita genggam erat, atau luka yang  diam-diam kita pelihara di sudut hati. Tindakan itu terdengar sederhana, tapi di baliknya ada pergulatan batin yang sunyi dan berat. 

Ada saat-saat dalam hidup di mana kita harus belajar melepaskan. Melepaskan  orang yang kita cintai, impian yang pernah kita genggam erat, atau luka yang  diam-diam kita pelihara di sudut hati. Tindakan itu terdengar sederhana, namun  di baliknya ada pergulatan batin yang sunyi dan berat. 

Makna Melepaskan dalam Hidup

Kita sering kali berpikir bahwa dengan menggenggam sesuatu erat-erat, kita  bisa memastikan ia tetap bersama kita. Kita lupa, semakin erat kita  menggenggam, semakin sakit tangan kita, semakin sulit pula kita melangkah.  Melepaskan bukan berarti tidak peduli, bukan berarti berhenti mencintai,  melainkan sebuah kesadaran bahwa tidak semua hal ditakdirkan untuk menetap  selamanya. 

Ada ketakutan yang wajar dalam melepaskan: takut kehilangan, takut kesepian,  takut hampa. Kita merasa jika kita merelakan, kita akan runtuh. Padahal, sering  kali justru sebaliknya—yang membuat kita runtuh bukanlah kehilangan itu  sendiri, melainkan keengganan kita untuk mengikhlaskan. Dengan terus  menggenggam masa lalu, kita menutup pintu bagi diri kita sendiri untuk  menerima kehidupan yang sedang menunggu di depan. 

Melepaskan Bukan Melupakan

MELEPASKAN

Melepaskan tidak sama dengan melupakan. Luka masa lalu mungkin tidak  pernah benar-benar hilang, kenangan indah pun tidak bisa kita hapus begitu  saja. Namun, melepaskan berarti kita tidak lagi mengizinkan luka atau kenangan  itu mengikat kita. Mereka tetap ada, namun tidak lagi menjadi belenggu. Kita  bisa menatapnya dengan senyum kecil, tanpa getir, tanpa ingin kembali. 

Ada pepatah yang mengatakan bahwa penderitaan lahir dari keterikatan.  Semakin kita melekat, semakin mudah kita terluka. Melepaskan bukan berarti  berhenti mencintai; kadang justru sebaliknya. Ia adalah wujud cinta yang paling  dalam—cinta yang tidak lagi memaksa, tidak lagi menuntut, hanya menerima  apa adanya. 

Melepaskan berarti kita percaya bahwa hidup punya jalannya  sendiri. Kita percaya bahwa ada hal-hal yang memang hanya hadir sebentar untuk  mengajarkan sesuatu, lalu pergi. 

Melepaskan adalah Proses Berulang 

Prosesnya tentu tidak mudah. Ada hari-hari ketika kita merasa kuat, tetapi juga  ada malam-malam ketika kenangan menyeruak tanpa diundang. Ada momen  ketika hati terasa ringan, tetapi esoknya kembali sesak. 

Itu bagian dari  perjalanan. Melepaskan adalah latihan berulang, bukan keputusan sekali jadi.  Seperti melatih otot, kita harus sabar, jatuh bangun, hingga akhirnya terbiasa  berjalan dengan beban yang lebih ringan.

Pada akhirnya, melepaskan adalah sebuah bentuk kebebasan. Kita bebas dari  jerat rasa bersalah, bebas dari bayang-bayang penyesalan, bebas dari ilusi  bahwa hidup harus sesuai dengan kehendak kita. 

Melepaskan bukan akhir, melainkan awal dari sebuah ruang baru. Melepaskan adalah ruang yang bisa kita isi dengan  ketenangan, syukur, dan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah kita bayangkan. 

Dan, mungkin, justru dalam melepaskan, kita menemukan diri kita yang  sebenarnya.

Jivaraga

Rumah aman & nyaman bagi kesehatan holistik membuka pintu untuk siapapun yang ingin hidup seimbang & bahagia