You are currently viewing Mengenal Lebih Jauh Family Constellation, bersama  Silvia Basuki, Family Constellation Therapist

Mengenal Lebih Jauh Family Constellation, bersama Silvia Basuki, Family Constellation Therapist

Family Constellation adalah salah satu metode yang digunakan untuk mendalami dinamika keluarga yang tersembunyi serta mengungkap trauma leluhur.  Sebab, percaya atau tidak, kehidupan kita masa sekarang dapat dipengaruhi oleh pengalaman di masa lalu yang terjadi pada keluarga. 

Kali ini, Silvia Basuki, seorang Family Constellation Therapist, mengupas tuntas tentang apa itu konstelasi keluarga dan bagaimana cara kerjanya. 

Yuk, simak selengkapnya pada artikel berikut ini! 

Apa Itu Family Constellation? 

Family Constellation adalah psikoterapi yang menggunakan dinamika keluarga sebagai basisnya. Sosok yang berperan penting dalam menciptakan dan memperkenalkan Family Constellation adalah Bert Hellinger, seorang psikoterapis asal Jerman.  Ia mengembangkan metode ini berdasarkan hasil observasi terhadap banyak kasus yang dialami oleh kliennya. Itulah sebabnya, Family Constellation ini seringkali dikenal dengan metode Bert Hellinger.

Dalam melakukan terapinya, Hellinger menggunakan teknik role play yang melibatkan klien dan peserta yang hadir saat sesi berlangsung yang dipandu oleh seorang fasilitator. Tugas klien adalah menentukan peran dari masing-masing peserta terpilih. Sedangkan tugas fasilitator adalah  mengumpulkan informasi menyeluruh sejarah keluarga dan dinamika yang terjadi di dalamnya. 

Lalu perlahan, fasilitator akan mengupas satu demi satu problema antar individu keluarga dalam role play yang dibuat secara spontan, hingga menemukan akar permasalahan atau sebab utama yang perlu diakui atau “dilepaskan”. 

Dalam penerapannya, family constellation therapy cenderung sederhana, tajam, dan langsung mengarah ke isu yang dihadapi oleh seseorang. 

Manfaat Metode Family Constellation

Tahukah Anda? Ketika seseorang mengalami problema dalam hidupnya, salah satu sumber utama akar masalah tersebut terletak pada keluarganya. Yang menarik, sumber masalah yang terjadi belum tentu berasal dari keluarganya saat ini, namun warisan dari beberapa generasi sebelumnya. 

Baca juga: Mengungkap 10 Mitos Meditasi untuk Manfaat yang Optimal

Hal ini karena setiap manusia melalui fase tumbuh dan berkembang dari komunitas terkecil, yaitu keluarga. Mereka belajar melalui observasi, meniru, bereksperimen, mengulang, kemudian mempraktikkannya pada generasi berikut. 

Suatu problem muncul ketika satu generasi belum berhasil menemukan cara yang tepat dalam mengatasi satu problem, atau belum belajar tentang bagaimana mengatasinya.

Family Constellation
Pexels.com

Contoh, ketika seseorang memilih menyimpan masalah rapat-rapat ketimbang berusaha mengatasinya. Akhirnya, problem yang belum selesai itu menjadi pemicu munculnya emosi dan perilaku tertentu, yang kemudian dirasakan dan ditiru oleh anak-anaknya. 

Contoh lainnya adalah ketika orangtua tidak bahagia dalam pernikahannya namun memilih bertahan demi anak. Pada saat itu, disadari atau tidak disadari, anak-anak akan ikut merasakan emosi ketidakbahagiaan orangtua. Bahkan, pada saat yang krusial ini, kemampuan anak untuk meniru perilaku orang yang lebih tua (perilaku positif dan perilaku negatif)  akan semakin terasah saat melihat situasi keluarganya sehari-hari. Remember, children will learn from their parents to the dot. 

Demikianlah proses pewarisan tersebut berlangsung secara turun-temurun, dan menciptakan “lingkaran negatif” yang tak kunjung usai. 

Lingkaran tersebut akan terputus jika salah satu generasi dalam keluarga memilih meninggalkan pola negatif dalam keluarganya, berani memaafkan, mengakui kelebihan dan kekurangan diri dan keluarganya, serta mengambil sikap baru untuk menjalani hidupnya saat ini. Family Constellation, dapat membantu Anda memutus lingkaran negatif dalam diri dan keluarga, mewujudkan ketenangan batin, dan memulai hidup yang lebih berkualitas. 

Ini yang Akan Dilalui Saat Family Constellation Therapy 

Klien didampingi untuk menghadapi langsung masalah yang ditemukan, dan akhirnya menyusun ulang tujuan hidup sesuai dengan yang diinginkan. Setiap orang membawa destiny (takdir) masing-masing. Namun yang jarang disadari, mereka juga membawa sebagian dari destiny orang lain, yakni keluarga. 

Lakukan Ini Sebelum Melakukan Family Constellation Therapy 

Beberapa hal ini perlu Anda lakukan sebelum memulai sesi Family Constellation Therapy:

1. Bersedia untuk Pulih

Setiap orang memiliki kisah hidup yang berbeda dengan orang lain, dan memiliki waktunya sendiri untuk pulih. Tidak semua orang langsung merasa nyaman untuk bicara kepada orang lain mengenai luka batin yang mereka alami. Sebagian orang hanya perlu waktu singkat, dan sebagian lagi membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa terbuka dengan fasilitator. 

Baca juga: 10 Cara Sukses Hadapi Mercury Retrograde 2024 dengan Bijak

Karena itu, sebelum mengikuti kelas Family Constellation, pastikan  Anda bersedia untuk pulih terlebih dahulu. Dengan demikian, tidak ada rasa terpaksa saat menjalani prosesnya. 

2. Jika Belum Siap, Jangan Paksakan Diri Anda

Tak mudah rasanya berbicara dengan orang lain. Jika Anda masih belum siap untuk bercerita atau bertanya kepada fasilitator, sebaiknya lakukan observasi terhadap diri Anda lebih dulu. 

Hadiri sesi workshop, dan amati bagaimana dinamika dalam workshop tersebut. Saat sudah siap, awali dengan sebuah pertanyaan kepada fasilitator. Selanjutnya fasilitator akan melanjutkan untuk membantu Anda dengan metode role play. 

3. Siapkan Diri untuk Bersabar

Ketika melakukan Family Constellation Therapy, Anda pasti akan didampingi oleh fasilitator. Tujuannya untuk membantu melihat dinamika tersembunyi dalam sejarah keluarga sekaligus mengurai benang-benang kusut (entanglements) kehidupan Anda selama ini. 

Yang perlu diingat, proses penguraian benang kusut pada masing-masing individu akan berbeda kecepatannya. Ibarat mengupas bawang, Anda perlu sabar mengupas setiap lapisannya. Rata-rata Anda perlu melakukan terapi berulang, minimal enam bulan. 

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan Anda pun dapat langsung merasakan efek baiknya hanya dalam satu kali terapi. Hasil akhir yang dirasakan memang bervariatif, tergantung dari berat dan ringannya problem yang dihadapi. 

4. Berani untuk Mengakui

Contoh, seorang peserta Family Constellation Therapy bercerita bahwa penyakit asma yang dideritanya hilang setelah ia mengikuti workshop. Ia menyadari bahwa penyakit asma tersebut bersumber dari rasa duka yang belum pulih setelah kematian kakaknya ketika masih mereka masih kecil. 

Family Constellation adalah
Pexels.com

Pada saat itu ia tidak bisa mengelola perasaan sedihnya. Ia merasa sangat bersalah karena ia bisa hidup menjalani hari dan meraih sukses saat ini, sementara kakaknya meninggal di usia yang sangat muda. 

Memang, emosi atau perasaan kita terhadap orang-orang terdekat, akan terkoneksi dengan cepat. Kesedihan dan rasa duka mendalam tersebut ternyata sangat mempengaruhi kesehatan mental kita sehingga bisa berdampak pada kesehatan fisik.

Baca juga: Yuk Bicara Soal Mind, Body, and Soul!

Saat kita mampu menelaah, mengakui kondisi diri, dan memahami dinamika keluarga dengan perspektif yang berbeda, maka biasanya ada perubahan positif yang dapat dirasakan. 

Jadi, jangan heran jika banyak peserta yang mengalami kejutan menyenangkan setelah keluar dari Family Constellation Therapy.  

Namun demikian, Family Constellation bukanlah metode yang menawarkan keajaiban atau jalan instan. Metode ini merupakan metode yang bisa membantu mengurai akar masalah keluarga yang berlangsung selama beberapa generasi. 

Setelah itu, setiap individu harus tetap bersedia secara aktif mengubah cara dan strategi hidup mereka. After all, we rewrite our own destiny, right?